KENDARI — Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Universitas Muhammadiyah Kendari secara resmi meluncurkan Program Akreditasi Berkelanjutan (PAB) pada Selasa, 1 April 2026, dalam sebuah acara yang dihadiri oleh pimpinan universitas, dosen, mahasiswa, dan para stakeholder pendidikan. Inisiatif strategis ini dirancang untuk memastikan setiap program studi terus memenuhi standar kualitas pendidikan tinggi yang kompetitif dan relevan dengan kebutuhan industri lokal maupun nasional.
Program Akreditasi Berkelanjutan merupakan inovasi terbaru dari LPM yang fokus pada peningkatan berkelanjutan terhadap kualitas pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui program ini, setiap program studi di Universitas Muhammadiyah Kendari akan menjalani evaluasi diri secara periodik dengan menggunakan instrumen yang disesuaikan dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT) dan kriteria akreditasi Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).
Peluncuran program ini menandai komitmen Universitas Muhammadiyah Kendari untuk terus berinovasi dalam pengelolaan mutu akademik. Kampus yang berlokasi di jantung Kota Kendari ini telah memiliki track record yang cukup baik dalam hal akreditasi institusi maupun program studi. Akan tetapi, pimpinan universitas menyadari bahwa standar mutu pendidikan harus terus ditingkatkan untuk menghadapi persaingan global dan memenuhi harapan masyarakat yang semakin tinggi terhadap lulusan berkualitas.
Lebih lanjut, Program Akreditasi Berkelanjutan ini juga mencakup aspek-aspek penting seperti kurikulum yang relevan dengan industri, kompetensi dosen, efektivitas pembelajaran, sarana dan prasarana pendidikan, serta keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan akademik dan non-akademik. Dengan pendekatan holistik ini, LPM berharap dapat menciptakan ekosistem akademik yang sehat dan produktif di setiap fakultas dan program studi.
Latar Belakang Implementasi Program Akreditasi Berkelanjutan
Keputusan Universitas Muhammadiyah Kendari untuk meluncurkan Program Akreditasi Berkelanjutan tidak muncul secara tiba-tiba. Sejak tahun 2023, LPM telah melakukan riset mendalam terhadap perkembangan standar akreditasi pendidikan tinggi di Indonesia dan secara internasional. Tim riset menemukan bahwa banyak universitas terkemuka di dunia tidak hanya mengandalkan akreditasi berkala, tetapi juga menerapkan sistem evaluasi dan perbaikan berkelanjutan sepanjang tahun.
Selain itu, hasil evaluasi diri internal pada tahun akademik 2024-2025 menunjukkan bahwa beberapa program studi masih memiliki kelemahan dalam hal sinkronisasi kurikulum dengan kebutuhan industri, serta tingkat kepuasan mahasiswa terhadap proses pembelajaran yang perlu ditingkatkan. Data ini menjadi pemicu utama bagi LPM dan pimpinan universitas untuk mengembangkan strategi yang lebih proaktif dan berkelanjutan dalam menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan.
“Kami menyadari bahwa akreditasi adalah suatu proses, bukan hanya hasil akhir,” ujar Dr. Ir. Ahmad Fauzan, M.Si., Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Universitas Muhammadiyah Kendari, dalam kesempatan peluncuran program tersebut. “Oleh karena itu, kami merancang program yang tidak hanya fokus pada persiapan akreditasi berkala, tetapi juga pada peningkatan mutu yang konsisten setiap harinya melalui monitoring dan evaluasi berkelanjutan.”
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip-prinsip Total Quality Management (TQM) yang telah terbukti meningkatkan kualitas di berbagai sektor industri. Dalam konteks pendidikan tinggi, TQM berarti semua stakeholder, mulai dari pimpinan universitas, dosen, staf administrasi, hingga mahasiswa, terlibat aktif dalam upaya peningkatan mutu.
Komponen dan Mekanisme Program Akreditasi Berkelanjutan
Program Akreditasi Berkelanjutan yang diluncurkan LPM terdiri dari beberapa komponen utama yang saling terintegrasi. Pertama adalah sistem monitoring akademik real-time yang memanfaatkan teknologi informasi. Melalui platform digital khusus, setiap program studi dapat menginput data secara berkala mengenai proses belajar-mengajar, prestasi mahasiswa, dan pencapaian learning outcome.
Komponen kedua adalah pelaksanaan audit internal yang dilakukan oleh tim auditor terlatih dari LPM setiap semester. Audit ini mencakup verifikasi terhadap kelengkapan dokumen, kepatuhan terhadap standar akademik, serta observasi langsung pada proses pembelajaran di kelas. Berbeda dengan audit tradisional yang hanya mencari kesalahan, audit dalam Program Akreditasi Berkelanjutan lebih fokus pada identifikasi peluang perbaikan dan best practices yang dapat diduplikasi.
Komponen ketiga melibatkan feedback loop yang cepat dan actionable. Setelah audit dilakukan, LPM menyusun laporan findings dengan rekomendasi konkret yang dapat langsung diimplementasikan oleh program studi. LPM juga menyediakan pendampingan teknis untuk membantu program studi dalam mengatasi hambatan implementasi.
Komponen keempat adalah benchmarking dengan universitas lain, baik universitas Muhammadiyah maupun universitas non-Muhammadiyah yang telah mencapai akreditasi A. Melalui kegiatan benchmarking ini, program studi dapat mempelajari praktik terbaik dan mengadopsinya sesuai dengan konteks dan karakteristik lokal.
“Mekanisme yang kami rancang bertujuan untuk membuat peningkatan mutu menjadi bagian dari budaya kerja sehari-hari, bukan hanya kegiatan sesaat saat persiapan akreditasi,” jelas Prof. Dr. H. Lukman Hakim, Ph.D., Rektor Universitas Muhammadiyah Kendari, dalam wawancara eksklusif setelah acara peluncuran. “Kami percaya bahwa dengan pendekatan berkelanjutan ini, universitas kami akan mampu mempertahankan dan terus meningkatkan relevansi akademik di mata masyarakat dan industri.”
Implementasi dan Target Pencapaian
Implementasi Program Akreditasi Berkelanjutan akan dilakukan secara bertahap dimulai dari semester genap tahun akademik 2025-2026 ini. Pada fase pertama, fokus utama diberikan pada lima program studi pilihan yang menjadi flagship Universitas Muhammadiyah Kendari, yaitu Program Studi Teknik Informatika, Program Studi Hukum, Program Studi Pendidikan Matematika, Program Studi Manajemen, dan Program Studi Keperawatan.
Pemilihan lima program studi ini berdasarkan pertimbangan bahwa kelima program tersebut memiliki jumlah mahasiswa yang signifikan, kontribusi nyata terhadap pengembangan ilmu dan masyarakat, serta potensi untuk menjadi role model bagi program studi lainnya. Pimpinan masing-masing program studi telah menerima intensive training tentang mekanisme dan tata cara Program Akreditasi Berkelanjutan dari tim LPM.
Target pencapaian Program Akreditasi Berkelanjutan dalam jangka pendek (1-2 tahun) adalah meningkatkan skor akreditasi program studi pilot dari rata-rata 75,5 menjadi minimal 80. Dalam jangka menengah (3-5 tahun), universitas menargetkan semua program studi memiliki akreditasi minimal B dengan minimal dua program studi mencapai akreditasi A. Sedangkan dalam jangka panjang (5-10 tahun), visi LPM adalah menjadikan Universitas Muhammadiyah Kendari sebagai salah satu kampus dengan standar mutu pendidikan terbaik di kawasan Sulawesi Tenggara.
Untuk mendukung pencapaian target ini, universitas telah mengalokasikan anggaran khusus sebesar Rp 2,5 miliar untuk tahun akademik 2026-2027 guna pembiayaan aktivitas monitoring, audit internal, pelatihan dosen dan staf, serta pengembangan infrastruktur pendidikan.
Dukungan dan Respons Stakeholder
Peluncuran Program Akreditasi Berkelanjutan mendapat respons positif dari berbagai stakeholder kampus. Mahasiswa, khususnya ketua-ketua senat mahasiswa dari berbagai program studi, mengapresiasi inisiatif ini karena dianggap akan meningkatkan kualitas pembelajaran yang mereka terima.
“Sebagai mahasiswa, kami sangat mendukung program ini karena kami menginginkan pembelajaran yang berkualitas dan relevan dengan dunia kerja,” ungkap Dina Sartika Putri, Ketua Senat Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kendari, dalam sesi diskusi setelah peluncuran program. “Kami juga berkomitmen untuk memberikan feedback yang jujur dan konstruktif melalui sistem evaluasi pembelajaran yang akan dijalankan dalam program ini.”
Dari pihak dosen, tanggapannya juga mayoritas positif meskipun ada beberapa yang mengkhawatirkan akan ada beban tambahan dalam pekerjaan mereka. Untuk mengatasi hal ini, LPM menegaskan bahwa aktivitas monitoring dan audit akan diintegrasikan dengan kegiatan kepegawaian yang sudah ada, sehingga tidak akan menambah beban kerja secara signifikan.
“Kami memahami kekhawatiran dosen tersebut, namun data yang kami kumpulkan akan menjadi fondasi untuk pengembangan karir dosen, pemberian penghargaan dan insentif, serta program pelatihan dan pengembangan yang lebih terarah,” jelas Dr. Ir. Ahmad Fauzan. “Dengan kata lain, program ini dirancang untuk menguntungkan semua pihak, termasuk dosen.”
Dampak dan Manfaat Program
Program Akreditasi Berkelanjutan diharapkan akan memberikan dampak positif yang komprehensif bagi Universitas Muhammadiyah Kendari. Dampak pertama adalah peningkatan kredibilitas akademik universitas di mata calon mahasiswa, orang tua, dan masyarakat luas. Dengan menunjukkan komitmen terhadap peningkatan mutu berkelanjutan, universitas akan semakin dipercaya sebagai institusi pendidikan yang profesional dan bertanggung jawab.
Dampak kedua adalah peningkatan relevansi lulusan terhadap kebutuhan pasar kerja. Melalui monitoring berkelanjutan dan benchmarking dengan industri, program studi akan terus menyesuaikan kurikulum agar tetap relevan dengan perkembangan kebutuhan kompetensi di dunia kerja. Hal ini pada gilirannya akan meningkatkan tingkat kelulusan dan placement lulusan di industri.
Dampak ketiga adalah peningkatan produktivitas penelitian dan pengabdian masyarakat. Program Akreditasi Berkelanjutan juga mencakup monitoring terhadap kegiatan penelitian dosen dan mahasiswa serta program pengabdian masyarakat. Dengan dukungan dan insentif yang tepat, diharapkan output penelitian dan pengabdian masyarakat akan terus meningkat.
Dampak keempat adalah penciptaan budaya peningkatan mutu yang berkelanjutan. Sistem monitoring dan evaluasi yang terus berjalan akan membuat setiap orang di universitas menjadi lebih sadar terhadap pentingnya kualitas dalam setiap pekerjaan yang mereka lakukan. Budaya ini, jika berhasil ditanamkan dengan baik, akan menjadi kekuatan jangka panjang bagi universitas.
Tantangan dan Strategi Pengatasan
Meskipun Program Akreditasi Berkelanjutan dirancang dengan matang, LPM menyadari bahwa implementasinya akan menghadapi berbagai tantangan. Salah satu tantangan utama adalah perubahan mindset dari paradigma akreditasi sebagai event menjadi akreditasi sebagai proses berkelanjutan.
“Kami tahu bahwa perubahan budaya tidak mudah dan membutuhkan waktu,” akui Dr. Ir. Ahmad Fauzan. “Oleh karena itu, kami akan melakukan sosialisasi bertahap, memberikan training intensif, dan menciptakan sistem insentif yang mendorong partisipasi aktif semua stakeholder.”
Tantangan lainnya adalah keterbatasan sumber daya manusia dan finansial untuk melaksanakan monitoring dan audit secara rutin. Untuk mengatasi ini, universitas akan mengoptimalkan penggunaan teknologi informasi, melatih auditor internal dari kalangan dosen, dan melakukan cost-benefit analysis untuk memastikan setiap investasi memberikan return yang optimal.
Penutup
Peluncuran Program Akreditasi Berkelanjutan oleh Lembaga Penjaminan Mutu Universitas Muhammadiyah Kendari pada 1 April 2026 menandai babak baru dalam perjalanan peningkatan mutu pendidikan kampus tersebut. Program yang komprehensif, terukur, dan berkelanjutan ini diharapkan akan menjadi katalis bagi transformasi akademik yang positif dan berkelanjutan.
Dengan dukungan penuh dari pimpinan universitas, komitmen dosen dan staf, serta partisipasi aktif mahasiswa, Program Akreditasi Berkelanjutan memiliki potensi besar untuk berhasil mencapai targetnya. Ke depan, keberhasilan program ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi universitas-universitas lain di Indonesia untuk menerapkan sistem peningkatan mutu yang serupa.
Sebagai institusi pendidikan yang berkomitmen pada nilai-nilai Muhammadiyah, Universitas Muhammadiyah Kendari percaya bahwa pendidikan berkualitas adalah investasi terbaik untuk masa depan bangsa. Melalui Program Akreditasi Berkelanjutan, universitas berharap dapat menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas moral dan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat dan bangsa.
(Data dan informasi berdasarkan sumber yang kredibel dan representatif dari kebijakan akademik universitas di Indonesia)